Perlunya Pemahaman yang Benar antara Tradisi, Adat dan Agama

Lampung adalah salah satu provinsi yng terkenal dengan adat dan budayanya, mulai dari tarian hingga upacara pernikahan yang tergolong unik karena tergolong masih kental dengan tradisi-tradisi dari nenek moyang yang siftnya turun menurun dan saling berbeda acara adat dan prnikahannya disetiap daerah.Namun jika diperhatikan, seringkali tradisi-tradisi/adat dalam kegiatannya dikaitkan dengan agama. Padahal kalau kita telusuri lebih jauh, bahwa antara tradisi dan agama itu sangatlah berbeda. Tradisi adalah bagian dari suatu adat istiadat yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sedangkan agama adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang berkaitan dengan Sang Pencipta (Tuhan).

Pandangan yang terjadi di tengah masyarakat adalah bahwa tradisi itu adalah bagian dari agama yang diwarisi oleh leluhur dan jika ada yang berani menolak atau memutuskan rantai tradisi tersebut, akan kena kutukan dari Tuhan. Memang benar ada beberapa tradisi yang berkaitan dengan agama dengan tujuan untuk lebih meningkatkan bhakti masyarakat kepada Tuhan. Tradisi seperti ini justru sangat perlu kita lestarikan sepanjang tidak menjadi masalah bagi masyarakat.

Namun bagaimana dengan tradisi yang terkesan justru memberatkan masyarakat, menambah beban masyarakat, yang membuat masyarakat menjadi menderita? Tidak dapat dipungkiri kenyataannya bahwa tradisi dalam masyarakat selalu ‘mengharuskan’ atau ‘mewajibkan’ masyarakat untuk memenuhi apa yang sudah menjadi tradisi itu turun temurun sekalipun tradisi tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama bahkan tidak tercantum dalam pustaka/kitab suci.

Sebuah buku yang ditulis oleh seorang sulinggih menyatakan bahwa dengan tradisi yang tidak sesuai dengan agama tersebut, hanya akan menyebabkan masyarakat terbebani dan menderita karenanya. Oleh karena tradisi tersebut dikaitkan dengan agama, maka seringkali agamalah yang dijadikan kambing hitam, Masyarakat yang tidak paham akan hal ini, pasrah-pasrah saja menghadapi kenyataan ini, dan mereka pada akhirnya melakukan upacara dengan dihantui oleh perasaan akan terbebani biaya, utang dan sebagainya.

Di tengah merosotnya perekonomian, mata pencarian yang sudah semakin menipis, biaya kehidupan yang semakin tinggi dan mahal, mereka harus terbebani oleh biaya-biaya tradisi ritual yang jumlahnya tidak sedikit bahkan tidak jarang yang harus mencari utang. Mungkin untuk mereka yang golongan menengah ke atas bukanlah suatu hal yang sulit. Lantas bagaimana dengan mereka yang tergolong masyarakat di bawah terlebih petani di desa terpencil yang saat ini mengalami kekeringan atau gagal panen?

Untuk itu, kiranya perlu pemahaman antara tradisi dan agama. Janganlah tradisi itu dikait-kaitkan dengan agama, sebab agama tidak pernah membebani umatnya. Agama justru menjadikan umatnya tenang, damai, dan bahagia. Yang harus ditradisikan adalah pengamalan atau agama itu sendiri. Jika suatu tradisi sudah nyata-nyata justru membuat masyarakat tambah menderita dan terbebani, sebaiknya dihapuskan saja. Sebab jika memang benar tradisi itu adalah agama, maka masyarakat tidak semestinya mengeluh, merasa terbebani sebab agama itu tidak menuntut sesuatu yang banyak dan berlebihan, melainkan ketulusan dan keikhlasan sesuai dengan kemampuan agar tidak merasa terbebani dalam upacara pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: